Sekolah Berdaya #4 Sidoarjo Bekali 450 Siswa dengan Edukasi Anti-Bullying hingga Tanggap Bencana
- rumah gagas bersama
- Aug 11
- 4 min read
Sidoarjo – Lebih dari 450 siswa TK dan SDN Bendotretek, Prambon, Sidoarjo, mengikuti rangkaian edukasi dalam program Sekolah Berdaya #4 Sidoarjo yang digelar Rumah Gagas Bersama (RGB) pada Sabtu, 11 April 2026. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga selesai tersebut menjadi ruang belajar bagi siswa untuk mengenal isu bullying, kekerasan seksual, pengelolaan sampah, hingga kesiapsiagaan menghadapi kebakaran.
Program yang dilaksanakan oleh para relawan Rumah Gagas Bersama ini hadir sebagai respons terhadap masih minimnya edukasi mengenai sejumlah isu yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Melalui pendekatan belajar sambil bermain, siswa diajak memahami berbagai persoalan tersebut dengan cara yang lebih sederhana, interaktif, dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar tentang Perlindungan Diri hingga Lingkungan
Kegiatan Sekolah Berdaya #4 Sidoarjo diawali dengan opening ceremonial sebelum para siswa mengikuti rangkaian sesi edukasi. Materi pertama yang diberikan adalah edukasi mengenai anti-bullying dan kekerasan seksual.
Pada sesi ini, siswa diajak mengenali perilaku yang termasuk bullying, memahami pentingnya saling menghargai, serta mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi tindakan yang tidak aman atau merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Materi kemudian dilanjutkan dengan edukasi sekolah bebas sampah. Para siswa diperkenalkan pada pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah serta membangun kebiasaan bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan.
Sesi terakhir membahas tanggap bencana, khususnya pengetahuan dasar mengenai kebakaran. Edukasi ini ditujukan untuk membangun kesadaran siswa mengenai potensi bahaya di lingkungan sekitar sekaligus mengenalkan tindakan dasar yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.
Seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui closing ceremonial.

Ketika Belajar Tidak Harus Selalu Serius
Bagi para relawan, Sekolah Berdaya tidak hanya menjadi kegiatan mengajar. Program ini menjadi kesempatan untuk merasakan secara langsung bagaimana proses pendidikan berlangsung di lingkungan sekolah sekaligus belajar memahami karakter anak-anak.
Diandra, Person in Charge (PIC) Sekolah Berdaya #4 Sidoarjo, mengaku mendapatkan banyak pengalaman selama mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, salah satu hal yang paling berkesan adalah melihat perubahan kecil dari para siswa selama proses pembelajaran.
“Ada momen-momen kecil seperti saat ada anak yang awalnya diam, perlahan mulai berani angkat tangan untuk bertanya atau menjawab. Rasanya seru melihat antusias anak-anak yang menjadi semangat belajar karena kehadiran Sekolah Berdaya,” ujar Diandra.
Menurutnya, pendekatan belajar sambil bermain menjadi salah satu hal yang membuat siswa lebih mudah terlibat dalam kegiatan. Metode tersebut juga menuntut relawan untuk mampu menyampaikan materi dengan bahasa yang sederhana dan menyenangkan.
“Ngajarin anak-anak itu nggak bisa pakai bahasa kaku. Kita harus pintar-pintar bikin materi jadi seru dan gampang dicerna,” lanjutnya.
Pengalaman tersebut juga menjadi proses pembelajaran bagi para relawan. Mereka tidak hanya belajar mengenai pengelolaan kegiatan, tetapi juga mengasah kesabaran, kreativitas, komunikasi, serta kemampuan bekerja sama dalam sebuah tim.
Membuka Ruang Belajar dan Perspektif Baru
Diandra menilai bahwa manfaat Sekolah Berdaya tidak hanya terletak pada materi yang diberikan kepada siswa. Kegiatan ini juga menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk memperoleh pengalaman dan perspektif yang mungkin belum mereka dapatkan dalam pembelajaran sehari-hari.
Menurutnya, siswa diajak untuk berpikir lebih kritis, berbicara mengenai cita-cita, dan memahami bahwa terdapat berbagai jalan untuk meraih keberhasilan.
“Dari sisi siswa, menurutku mereka mendapatkan ruang yang nggak mereka dapat di sekolah biasa. Mereka diajak berpikir kritis, cerita tentang cita-cita, dan tahu kalau ada banyak jalan untuk sukses, nggak cuma nilai rapor,” ungkapnya.
Bagi masyarakat sekitar, kegiatan tersebut juga menjadi jembatan yang mempertemukan anak-anak dengan perspektif baru dari orang-orang di luar lingkungan mereka. Kehadiran relawan membawa pengalaman dan cara belajar yang berbeda, sekaligus membuka interaksi antara siswa dengan generasi muda dari lingkungan yang lebih luas.
“Intinya, dampaknya kecil tapi dalam banget,” kata Diandra.

Menjadi Relawan untuk Belajar dari Kehidupan Nyata
Selain memberikan manfaat kepada siswa, Sekolah Berdaya juga menjadi bagian dari proses pengembangan kapasitas relawan. Para relawan tidak hanya belajar mengenai organisasi, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung berinteraksi dengan siswa dan menghadapi dinamika di lapangan.
Diandra menyebut pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk “turun gunung”, terutama bagi anak muda yang sehari-hari menjalani aktivitas kuliah atau bekerja di perkotaan.
Menurutnya, keterlibatan sebagai relawan membuat seseorang dapat melihat secara langsung realitas pendidikan dan masyarakat yang mungkin tidak ditemui dalam keseharian.
“Volunteer di sini mengingatkan kita kalau ada realita lain yang butuh kehadiran langsung, bukan cuma lewat donasi atau share story,” tuturnya.
Pengalaman di lapangan juga menjadi ruang untuk mengembangkan berbagai soft skill, mulai dari membaca suasana hati anak, menghadapi berbagai karakter siswa, berkomunikasi secara efektif, hingga membangun kerja sama tim dalam situasi yang dinamis.
Bagi Diandra, seseorang tidak harus menjadi ahli atau memiliki kemampuan khusus untuk bergabung sebagai relawan. Kemauan untuk belajar dan kesiapan untuk terlibat menjadi hal yang lebih penting.
“Pokoknya di sini kita benar-benar terjun melihat realita pendidikan. Nggak perlu jadi ahli atau orang pintar, yang penting niat dan siap belajar bareng,” ujarnya.
Membangun Kesadaran Sejak Dini
Melalui pelaksanaan Sekolah Berdaya #4 Sidoarjo, Rumah Gagas Bersama berharap siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru selama kegiatan berlangsung, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya saling menghargai, mengenali dan mencegah perilaku bullying, memahami perlindungan diri dari kekerasan seksual, menjaga kebersihan lingkungan, serta memiliki pengetahuan dasar dalam menghadapi situasi kebakaran.
Bagi RGB, pendidikan mengenai isu sosial dan lingkungan perlu diberikan sejak usia dini. Pengetahuan yang diperoleh anak-anak diharapkan dapat menjadi dasar untuk membentuk kebiasaan dan karakter yang lebih peduli terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan.

Berlanjut ke Malang
Sekolah Berdaya #4 Sidoarjo menjadi salah satu bagian dari rangkaian upaya Rumah Gagas Bersama untuk menghadirkan edukasi dan pemberdayaan secara langsung kepada masyarakat. Program serupa selanjutnya direncanakan hadir di wilayah sekitar Malang sebagai bagian dari Safari Kampung Berdaya.
Safari Kampung Berdaya merupakan program pengabdian masyarakat yang diinisiasi Rumah Gagas Bersama, komunitas relawan muda di Jawa Timur. Program tersebut berfokus pada pengembangan sumber daya masyarakat desa melalui sektor pendidikan, ekonomi, dan lingkungan.
Melalui keberlanjutan program tersebut, Rumah Gagas Bersama berupaya memperluas akses pembelajaran sekaligus mendorong lebih banyak anak muda untuk terlibat langsung dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi para relawan, setiap keterlibatan juga menjadi kesempatan untuk memperoleh pengalaman baru. Sebagai bentuk apresiasi, relawan yang berpartisipasi dalam kegiatan mendapatkan e-Certificate dan goodie bag.
Lebih dari sekadar kegiatan edukasi sehari, Sekolah Berdaya menjadi ruang pertemuan antara siswa, relawan, dan masyarakat untuk sama-sama belajar. Dari ruang kelas hingga interaksi sederhana di antara relawan dan siswa, kegiatan ini menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, perubahan dapat tumbuh dari satu pengetahuan baru, satu keberanian untuk bertanya, dan satu pengalaman yang membuat seseorang melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.



Comments