top of page
Search

Safari Kampung Berdaya #2 Hadir di Desa Belung, Libatkan Lebih dari 600 Peserta untuk Perkuat Pendidikan, Pemuda, dan UMKM

Writer: rumah gagas bersama
rumah gagas bersama
Jul 30
4 min read

Malang – Komunitas Rumah Gagas Bersama kembali menggelar program pengabdian masyarakat Safari Kampung Berdaya #2 di Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada 25–26 Juli 2026. Kegiatan yang melibatkan 32 panitia dan relawan ini menghadirkan berbagai program edukasi, pemberdayaan ekonomi, serta pengembangan kapasitas masyarakat yang menjangkau lebih dari 600 penerima manfaat dari berbagai kalangan.

Mengusung semangat kolaborasi, Safari Kampung Berdaya #2 dirancang sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pendekatan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pengembangan potensi desa. Program ini juga bertujuan menanamkan kesadaran mengenai isu sosial dan lingkungan sejak usia dini, memperkuat peran pemuda sebagai agen perubahan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui sinergi berbagai pihak.

Penerima manfaat dalam kegiatan ini meliputi siswa SDN Belung dan SDI Baitut Taqwa, santri Pondok Pesantren Al-Ittihad, pemuda desa dan Karang Taruna, pelaku UMKM lokal, hingga masyarakat Desa Belung secara umum.



Edukasi di Sekolah Tanamkan Kesadaran Sejak Dini

Rangkaian kegiatan dimulai melalui program Sekolah Berdaya di SDN Belung dan SDI Baitut Taqwa. Pada sesi ini, para relawan memberikan tiga materi utama, yaitu edukasi mengenai pencegahan perundungan dan kekerasan seksual, mitigasi bencana gempa bumi (lindu), serta Sekolah Bijak Sampah yang dilengkapi praktik pembuatan kompos. Melalui pendekatan yang interaktif, siswa diajak memahami pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, mengenali langkah penyelamatan diri saat terjadi bencana, sekaligus membangun kepedulian terhadap pengelolaan sampah sejak usia dini.


Workshop Daur Ulang dan Pendampingan UMKM Lokal

Selain menyasar sektor pendidikan, Safari Kampung Berdaya #2 juga menghadirkan Workshop Daur Ulang Limbah Fashion yang memberikan pelatihan kepada peserta untuk mengolah limbah tekstil menjadi produk bernilai guna. Workshop ini dipandu oleh Yudha Erfiana, Owner Hasika Handmade Malang, yang membagikan pengetahuan serta praktik langsung mengenai pemanfaatan limbah fashion menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

Di waktu yang sama, tim relawan melaksanakan Visit UMKM Lokal sebagai bagian dari upaya mengenali dan mendokumentasikan potensi ekonomi Desa Belung. Kunjungan dilakukan ke sejumlah pelaku usaha, di antaranya UMKM Gerit yang memproduksi bahan makanan pokok tradisional berbahan dasar jagung sebagai identitas Kampung Gerit di Poncokusumo, UMKM Opak Gambir, serta UMKM Keripik Talas dan Singkong.

Selama kunjungan, para relawan melakukan wawancara dengan pelaku usaha, mendokumentasikan proses produksi, menyusun kajian sederhana mengenai potensi pengembangan usaha, hingga membuat konten promosi digital sebagai bentuk dukungan terhadap pemasaran produk lokal. Melalui kegiatan ini, pelaku UMKM tidak hanya memperoleh eksposur yang lebih luas, tetapi juga mendapatkan berbagai masukan mengenai strategi pengembangan usaha di era digital.


Bootcamp Pemuda Dorong Pengembangan Potensi Desa

Memasuki malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan Bootcamp Pemuda Desa yang diikuti oleh pemuda desa, Karang Taruna, serta mahasiswa KKN. Dalam sesi ini, peserta memperoleh pembekalan mengenai komunikasi dan advokasi masyarakat, pemetaan serta branding potensi desa, hingga teknik pembuatan konten kreatif untuk mendukung promosi desa melalui media digital.

Bootcamp tersebut menjadi ruang belajar sekaligus diskusi bagi generasi muda untuk memahami peran strategis mereka dalam pembangunan desa. Para peserta didorong untuk mampu mengenali potensi daerahnya, mengomunikasikan gagasan secara efektif, serta memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana promosi dan pemberdayaan masyarakat.


Edukasi di Pondok Pesantren Tutup Rangkaian Kegiatan

Rangkaian Safari Kampung Berdaya #2 kemudian ditutup pada hari kedua melalui kegiatan edukasi di Pondok Pesantren Al-Ittihad. Dalam sesi ini, para santri mendapatkan materi mengenai pencegahan kekerasan seksual, kesehatan mental, serta motivasi pendidikan.

Materi pencegahan kekerasan seksual disampaikan oleh Shinta Ulan dan Widi Nugraha yang merupakan Gentle Parents Activist. Sementara itu, edukasi kesehatan mental disampaikan oleh Jessica Imelda Ubra, Sarjana Psikologi sekaligus pegiat kesehatan mental, dengan pendampingan dari Alinda Ayu Shabrina, Pendamping Hukum Perempuan Lumajang. Adapun sesi motivasi pendidikan dibawakan oleh Azizuddin Muhammad Nashafi, mahasiswa King Mongkut's University of Technology Thonburi, Thailand, yang membagikan pengalaman serta semangat kepada para santri untuk terus melanjutkan pendidikan dan mengembangkan potensi diri.


Antusiasme Peserta dan Dampak bagi Masyarakat

Sepanjang pelaksanaan kegiatan, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti setiap sesi. Hal ini terlihat dari tingginya partisipasi dalam praktik, simulasi, maupun diskusi yang berlangsung selama kegiatan. Guru, perangkat desa, serta pengelola pondok pesantren juga memberikan apresiasi terhadap materi yang dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Di sisi lain, para pelaku UMKM menyambut positif kegiatan kunjungan relawan karena dinilai mampu membuka peluang promosi produk sekaligus memperkenalkan potensi usaha lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Melalui berbagai rangkaian kegiatan tersebut, Safari Kampung Berdaya #2 memberikan dampak nyata bagi masyarakat Desa Belung. Siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pencegahan perundungan, kekerasan seksual, mitigasi bencana, serta pengelolaan sampah. Pemuda desa mendapatkan bekal mengenai komunikasi masyarakat, pemetaan potensi desa, dan pembuatan konten kreatif sebagai sarana promosi. Sementara itu, pelaku UMKM memperoleh dukungan promosi digital serta rekomendasi sederhana yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usahanya.


Komitmen Membangun Program Berkelanjutan

Founder Rumah Gagas Bersama, Durrotul Firdaus, menyampaikan bahwa Safari Kampung Berdaya diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi awal dari program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan melalui kolaborasi antara komunitas, pemerintah desa, lembaga pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat.

Ia berharap hasil dari Workshop Daur Ulang Limbah Fashion dapat terus diproduksi dan dipasarkan melalui Rumah Gagas Bersama sebagai salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Selain itu, Rumah Gagas Bersama juga membuka peluang kerja sama jangka panjang dengan Desa Belung dalam bidang pengembangan pendidikan, penguatan kapasitas pemuda, serta pendampingan UMKM agar manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Ke depan, Rumah Gagas Bersama berkomitmen menjadikan Safari Kampung Berdaya sebagai program yang terus berkembang melalui berbagai kegiatan lanjutan, seperti pendampingan UMKM, pengembangan produk hasil daur ulang limbah fashion, pelatihan bagi pemuda desa, hingga program edukasi berkelanjutan di sekolah maupun pondok pesantren. Melalui semangat kolaborasi tersebut, organisasi berharap lahir semakin banyak desa yang mampu berkembang secara mandiri dengan memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki serta didukung oleh masyarakat yang berdaya, kreatif, dan adaptif terhadap tantangan zaman.


 
 
 

173 Comments


quinn92581
31 minutes ago

What interests me about making after-school activities engaging is how a broad idea becomes part of an ordinary day. An informal activity can give children room to try an interest outside the usual lesson structure. It also gives the phrase after school learning activities a clearer meaning than a label on its own. I would be interested in a simple example, because it is often the ordinary details that make an idea memorable. How can an after-school group welcome both regular participants and new arrivals?

Like

quinn92581
3 hours ago

A conversation about learning about lakes and outdoor recreation seems most useful to me when it leaves space for uncertainty and further questions. A lakeside setting can offer opportunities to observe nature and discuss responsible recreation. That is the kind of detail I would keep in mind while exploring Wilkasy outdoor learning. I would be interested in a simple example, because it is often the ordinary details that make an idea memorable. How could an outdoor lesson combine observation with consideration for other visitors?

Like

quinn92581
4 hours ago

What draws my attention to exploring village stories through local research is the possibility of making an unfamiliar subject feel closer to everyday life. A small place can have many stories when people are asked about ordinary changes over time. It also gives the phrase Wilczynek local research a clearer meaning than a label on its own. The part I would like to explore further is what happens when the idea meets a real situation with its own limitations. Which interview questions would help pupils learn more than a place name and a date?

Like

quinn92581
11 hours ago

There is something approachable about discussing exploring creative and practical study pathways through situations people can actually picture. Trying a small project can help a student discover whether they enjoy the work behind an appealing course title. This is why I would approach creative higher education with a specific question rather than a fixed expectation. I am more curious about the process than a polished result, because the steps in between are usually where questions appear. What would a useful introductory project look like before choosing a specialist programme?

Like

quinn92581
12 hours ago

The topic of connecting local history with Wschowa education gives me a few things to think about, especially when the discussion moves beyond general advice. A local map can help students connect historical information with a place they know. That is the kind of detail I would keep in mind while exploring Wschowa history education. I am still thinking through the details, and a small example would help me picture how this works in practice. How could a class compare the way a town is described in different periods?

Like
IMG_5660_overlay.png

Contact Us

Ingin tahu lebih banyak tentang Rumah Gagas Bersama atau ingin berkolaborasi dalam menciptakan dampak sosial yang lebih luas? Jangan ragu untuk menghubungi kami, dan tim kami akan segera menghubungi Anda. Mari bersama-sama membangun kepemimpinan pemuda yang lebih kuat dan berdaya!

Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia

© 2025 by Rumah Gagas Bersama. Powered and secured by Wix

bottom of page